Login Script

Minggu, 21 Oktober 2012

Sultan Turki Utsmani Sempat Dikerjai Yahudi


Aulia Akbar
Rabu, 10 Oktober 2012 12:49 wib
Diskusi Krisis Arab (Foto: Aulia Akbar/ Okezone)
Diskusi Krisis Arab (Foto: Aulia Akbar/ Okezone)
JAKARTA - Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Mohammad Sidik menilai, sikap kebencian yang diusung Yahudi kepada umat Islam sudah berlangsung sejak dulu. Mereka pun berhasil mengganggu kekuasaan Sultan Utsmani Turki.

Dalam diskusi yang bertajuk Krisis Arab: Islam dan Barat, Sidik menceritakan sejarah pembentukan negara Israel dan juga kecerdasan mereka hingga akhirnya mereka bisa membujuk Barat untuk mendapatkan Palestina. Sidik juga mengatakan, pada era Kesultanan Utsmani Turki, Sultan terjerat dengan masalah utang yang cukup serius dan pada saat itu, Yahudi pun memainkan peranannya.

"Pada 1989, umat Yahudi berkumpul di Swiss untuk memutuskan rencana mendirikan negara dalam jangka waktu 50 tahun. Langkah pertama adalah mendatangi Sultan Utsmani, sebelumnya mereka sudah mendatangi Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang memang bertanggung jawab untuk membesarkan Yahudi ini," ujar Sidik di kantor Partai Bulan Bintang, Rabu (10/10/2012).

"AS dan Inggris menawarkan tanah di Afrika Barat dan Timur, namun mereka tidak mau. Mereka hanya mau Palestina," tegasnya.

Pada saat mendatangi Sultan Utsmani, Sultan pun memperbolehkan para warga Yahudi itu untuk tinggal di wilayah manapun juga, di Istanbul. Namun Sultan tidak pernah mengizinkannya mengambil Palestina. Pada saat itu pula, Sultan memiliki banyak utang dan warga Yahudi menawarkan pembebasan utang bila Sultan memberikan mereka, tanah Palestina.

Dan tepat pada 1948, negara Israel pun lahir, estimasi 50 tahun yang sudah direncanakan warga Yahudi untuk membentuk negara sudah terbukti. Bangsa Palestina juga menjadi bangsa yang terusir dari wilayahnya sendiri.

Sidik pun menilai, kinerja Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam membahas isu-isu Islam kurang efektif. Hal itu disebabkan karena banyaknya perbedaan pandangan dan pemikiran antar negara anggota organisasi tersebut. Sampai saat ini, OKI pun belum bisa untuk memecahkan masalah yang dihadapi Palestina.(faj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar